Pages

Friday, 10 July 2015

Traffic, F*ckin Speedtrap, and Bicycle

Sudah lama saya ingin menulis artikel ini. Terus terang saya semakin muak dengan kondisi jalanan, so here's the story goes...

Di beberapa kota besar, kemacetan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, apalagi di Jabodetabek, tiada hari tanpa macet (kecuali saat Lebaran, hehehe). Seakan macet belum cukup, ditambahkan lagi satu fitur menyebalkan dari fasilitas transportasi umum, yaitu permukaan jalan yang rusak. Berbagai jenis kerusakan jalan sudah pernah saya jumpai, mulai dari lubang kecil. lubang besar yang lebih mirip kubangan kerbau (sampai bisa ditanami pisang, bahkan dijadikan kolam ikan), permukaan jalan yang tidak rata, sampai tambalan lubang yang bisa membuat sepeda anda melayang.

Ini jalanan ibu kota reader's
Saat permukaan jalan dalam kondisi rusak, saya rasa tidak ada masyarakat yang suka dan setuju dengan hal itu, masyarakat pasti menuntut permukaan jalan yang mulus. Nah, mulai dari sinilah anomali terjadi. Kemacetan yang rutin membuat waktu tempuh bertambah, belum lagi stop and go membuat tingkat kelelahan engine maupun pengendaranya meningkat secara signifikan. 

Rider/driver yang awalnya kalem bisa saja berubah jadi agressive setalah terkena kemacetan cukup lama. Saya tidak heran lagi melihat bikers maupun drivers yang memacu kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi setelah mereka berhasil melewati kemacetan.

Rasanya mungkin seperti lega dan ingin streching. Akhirnya timbullah perilaku (mungkin sudah menjadi budaya mengingat banyaknya pelaku) agressive riding/driving dan melanggar aturan lalu-lintas. Celakanya, perlaku tersebut kadang terbawa-bawa sampai di area perumahan! Bukan hal yang langka saya membaca berita terjadi kecalakaan akibat speeding.

Perilaku/budaya inilah yang melahirkan side effect yang (sangat) menyebalkan bagi saya. Saat permukaan jalan rusak, masayarakat akan menggerutu dan berharap permukaan jalan tersebut segera diperbaiki, namun setelah jalanan tersebut diperbaiki, apa yang terjadi?

Bermunculanlah polisi tidur liar seperti jamur di musim hujan. Dengan berbagai bentuk, mulai dari sebatang kayu yang dipaku ke jalan, tumpukan batu bata, aspal yang ditebalkan dan cor-coran semen. Bentuk yang beraneka rupa ditambahkan lagi dengan jarak yang bermacam-macam pula. Ada yang membuat poldur dengan jarak 10m, 50m dll.


Lebih konyol lagi, poldur ini tidak hanya muncul di areal perumahan, tapi sudah merambah ke jalan raya! Bahkan rute commuting saya harus melewati jalan raya yang menurun/menanjak dengan poldur tepat di tengah-tengah turunan/tanjakan, hebat ya?

Tidak ada supervisi dari pihak-pihak terkait seperti dishub atau kepolisian mengenai pembangunan poldur yang semakin liar. Pembuat poldur liar biasanya beralasan supaya kendaraan yang melewati jalur tersebut tidak bisa speeding, banyak anak kecil main di jalan (sejak kapan jalanan jadi tempat bermain anak-anak?) dan berbagai macam alasan lainnya.

How stupid and egocentric they are?

Entah mereka sadar atau tidak, perilaku mereka membuat:

1. Waktu tempuh bertambah lama

2. Kerusakan kaki-kaki kendaraan

3. Pemborosan bahan bakar (bagi kendaraan bermotor)

4. Potensi kecelakaan semakin tinggi (poldur liar sering dibuat asal-asalan, bahkan kadang tidak terlihat saat malam hari)

5. Potensi ibu-ibu hamil mengalami keguguran meningkat


Saya yakin, selain ada masyarakat yang setuju dengan poldur liar, ada juga yang tidak setuju. 

Saya termasuk yang sangat tidak setuju dengan anda yang membangun poldur liar! Apapun alasannya.

Saya lebih rela melewati jalanan rusak daripada jalanan mulus dengan poldur liar.

Lalu, apa kaitannya kondisi jalanan dengan sepeda? Kondisi tersebut membuat cyclist terpaksa mempertimbangkan ulang menggunakan citybike/roadbike, bisa anda bayangkan betapa menyebalkannya menggunakan roadbike saat anda harus melewati puluhan poldur liar.

Pilihan yang paling sesuai akhirnya hanya MTB/hybrid, dengan resiko effort dan waktu yang dibutuhkan lebih besar daripada commuting menggunakan citybike/roadbike. Tidak terhitung cyclist (roadies) yang mengalami kecelakaan bahkan kerusakan sepeda akibat permukaan jalan yang tidak mulus.

Mulai dari jari-jari patah, rim speleng, ban bocor bahkan ada yang terjatuh di tengah jalan karena permukaan jalanan yang tidak rata!!

JIKA JALAN UMUM ADALAH MILIK BERSAMA, MENGAPA POLDUR LIAR TERUS DIBIARKAN BERMUNCULAN?

APAKAH ANDA, PEMBUAT POLDUR LIAR MAU DAN DAN SANGGUP MENANGGUNG KERUGIAN KORBAN DARI POLDUR LIAR ANDA?

PIKIRKAN ITU SEBELUM ANDA PUNYA IDE MEMBUAT POLDUR LIAR!!



#gowesaja

No comments: