Pages

Friday, 31 July 2015

Review: The Bandits Bike Stuff Bike Bag

Honestly, saya sudah mendapatkan produk ini jauh sebelum memesan wheel bag dari The Bandits Bike Stuff. Karena saya menggunakan bike bag-nya untuk transport sepeda inventaris kantor, saya tidak terlalu detail memperhatikan fitur-fiturnya.


Namun, setelah kemarin mereview wheel bag dari The Bandits Bike Stuff, saya pikir tidak ada salahnya saya review juga bike bag-nya. Ok, lets started with the feature's, The Bandits Bike Stuff Bike Bag memiliki fitur yang sangat sederhana, ada 3 kompartemen utama (1 kompartemen untuk frame dan 2 kompartemen untuk wheelset), 2 buah wheel bag dan satu strap untuk mengikat frame.. 



Proteksi soft padding Polyfoam 5 mm hanya tersedia di bagian depan dan belakang tas, untuk memudahkan transport The Bandits Bike Stuff Bike Bag menyediakan tali pegangan yang cukup lebar dan panjang untuk disampirkan di pundak (well, its fuckin heavy and uncomfortable when i tried with MTB XC inside :D). Agar bike bag anda tidak tertukar dengan bike bag lainnya, tersedia juga kantong kecil untuk menaruh kartu nama di bagian depan tas.

Dari fitur sekarang kita lanjut ke bahan bike bag-nya. Well..bahan Nylon PVC/300D yang digunakan tidak terlalu tahan gesekan. Beberapa bike bag sudah terlihat sobek pada kain bagian bawahnya, kemungkinan karena saat membawa bike bag beserta isinya, bagian bawah tas tersebut sedikit terseret-seret di lantai. 


He gonna eat your stuff

Sedangkan untuk jahitannya, sejauh ini belum terlihat ada benang yang lepas maupun jahitan yang terbuka (isi bike bag-nya hanya sepeda XC hardtail 26", perkiraan kasar bobot sepeda 12-15kg). Zipper yang digunakan berkualitas baik, terasa lancar saat dibuka-tutup berulang kali.

Apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam The Bandits Bike Stuff Bike Bag? Selain frame, wheelset dan pedal (harus dilepas), The Bandits Bike Stuff Bike Bag masih mampu menelan helm, sepatu, satu set jersey, beberapa sparepart seperti ban dalam serta necessary tool. Namun sebaiknya barang-barang tersebut sudah anda masukkan ke tas-tas berukuran kecil karena, The Bandits Bike Stuff Bike Bag tidak menyediakan kompartemen untuk barang-barang tersebut.

Little workout eh?

Dengan harga jual Rp350.000, The Bandits Bike Stuff Bike Bag menurut saya lebih cocok digunakan untuk storage sepeda anda di rumah dibandingkan untuk travelling. Minimnya proteksi serta fitur untuk handling membuat anda harus mau "repot" untuk memberikan proteksi tambahan pada frame serta keluar keringat untuk membawa bike bag dalam kondisi full load.

Last, The Bandits Bike Stuff Bike Bag potensial untuk dikembangkan, penambahan beberapa fitur seperti roda dan bahan yang anti abrasif di bagian bawah, soft padding di seluruh bagian serta hard padding untuk chainring can make The Bandits Bike Stuff Bike Bag safer and comfortable to transport your bike anywhere.

Verdict:

Fitur: 5/10
Desain; 5/10
Harga: 7/10
Proteksi: 3/10
Durabilitas: 3/10


#gowesaja


Monday, 13 July 2015

Bicycle Ownership Formula

When you're a single...

X + 1= N




When you're married, it's turn to be...

X x 1= N



X = Jumlah sepeda yang anda miliki saat ini
N = Jumlah sepeda yang anda miliki pada akhirnya 




"i promise honey, this is my last bike"

and we know you don't mean it.... :D


#gowesaja

Sunday, 12 July 2015

Review: The Bandits Bike Stuff Wheel Bag

Berawal dari merakit 2 set wheelset untuk roadbike dan fixed gear, terpikirlah perlu wheel bag untuk menyimpan wheelset yang sedang tidak digunakan. Googling sana-sini, harga wheelbag ternyata lumayan mahal juga. Wheelbag yang branded seperti Mavic bisa tembus diatas Rp300.000.

Well, saya tidak rela menukarkan uang diatas Rp300.000 hanya untuk sepasang wheelbag mengingat fungsinya yang hanya untuk storage wheelset. Sempat bingung mencari wheelbag yang lebih murah, akhirnya saya ingat ada salah satu pembuat bike bag dari Bandung yang pernah saya beli produknya untuk keperluan kantor, The Bandits Bike Stuff.


Tidak berharap banyak, saya hubungi The Bandits Bike Stuff untuk menanyakan, apakah saya bisa pesan wheelbag-nya saja atau tidak. Tidak lama setelah pesan terkirim, The Bandits Bike Stuff menyatakan bahwa mereka bisa memenuhi permintaan saya dan harga yang ditawarkan pun reasonable, hanya Rp120.000 per pasang (2 wheelbag)!

Request accepted, langsung order 2 pasang wheelbag di Bandits Bike Bag. Saat itu saya request agar dua wheelbagnya bisa dijahit menjadi satu, namun sayangnya request tersebut belum bisa dipenuhi. No big deal, tetap order dan sabar menunggu pesanan saya dikerjakan.



Saat wheelbag datang, spesifikasinya sama persis dengan wheelbag yang disertakan dalam paket bike bag mereka. Tidak ada fitur tambahan, hanya wheelbag dengan resleting yang berjalan lancar dan pegangan tas. Last, masih banyak yang bisa diimprove dari produk ini, seperti:

1. Menyediakan tempat untuk menaruh QR
2. Menambahkan busa tebal untuk proteksi tambahan
3. Menyediakan fitur untuk menggabungkan 2 wheelbag menjadi 1 



Overall, The Bandits Wheel Bag its bang for the buck's!


#gowesaja

Friday, 10 July 2015

Traffic, F*ckin Speedtrap, and Bicycle

Sudah lama saya ingin menulis artikel ini. Terus terang saya semakin muak dengan kondisi jalanan, so here's the story goes...

Di beberapa kota besar, kemacetan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, apalagi di Jabodetabek, tiada hari tanpa macet (kecuali saat Lebaran, hehehe). Seakan macet belum cukup, ditambahkan lagi satu fitur menyebalkan dari fasilitas transportasi umum, yaitu permukaan jalan yang rusak. Berbagai jenis kerusakan jalan sudah pernah saya jumpai, mulai dari lubang kecil. lubang besar yang lebih mirip kubangan kerbau (sampai bisa ditanami pisang, bahkan dijadikan kolam ikan), permukaan jalan yang tidak rata, sampai tambalan lubang yang bisa membuat sepeda anda melayang.

Ini jalanan ibu kota reader's
Saat permukaan jalan dalam kondisi rusak, saya rasa tidak ada masyarakat yang suka dan setuju dengan hal itu, masyarakat pasti menuntut permukaan jalan yang mulus. Nah, mulai dari sinilah anomali terjadi. Kemacetan yang rutin membuat waktu tempuh bertambah, belum lagi stop and go membuat tingkat kelelahan engine maupun pengendaranya meningkat secara signifikan. 

Rider/driver yang awalnya kalem bisa saja berubah jadi agressive setalah terkena kemacetan cukup lama. Saya tidak heran lagi melihat bikers maupun drivers yang memacu kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi setelah mereka berhasil melewati kemacetan.

Rasanya mungkin seperti lega dan ingin streching. Akhirnya timbullah perilaku (mungkin sudah menjadi budaya mengingat banyaknya pelaku) agressive riding/driving dan melanggar aturan lalu-lintas. Celakanya, perlaku tersebut kadang terbawa-bawa sampai di area perumahan! Bukan hal yang langka saya membaca berita terjadi kecalakaan akibat speeding.

Perilaku/budaya inilah yang melahirkan side effect yang (sangat) menyebalkan bagi saya. Saat permukaan jalan rusak, masayarakat akan menggerutu dan berharap permukaan jalan tersebut segera diperbaiki, namun setelah jalanan tersebut diperbaiki, apa yang terjadi?

Bermunculanlah polisi tidur liar seperti jamur di musim hujan. Dengan berbagai bentuk, mulai dari sebatang kayu yang dipaku ke jalan, tumpukan batu bata, aspal yang ditebalkan dan cor-coran semen. Bentuk yang beraneka rupa ditambahkan lagi dengan jarak yang bermacam-macam pula. Ada yang membuat poldur dengan jarak 10m, 50m dll.


Lebih konyol lagi, poldur ini tidak hanya muncul di areal perumahan, tapi sudah merambah ke jalan raya! Bahkan rute commuting saya harus melewati jalan raya yang menurun/menanjak dengan poldur tepat di tengah-tengah turunan/tanjakan, hebat ya?

Tidak ada supervisi dari pihak-pihak terkait seperti dishub atau kepolisian mengenai pembangunan poldur yang semakin liar. Pembuat poldur liar biasanya beralasan supaya kendaraan yang melewati jalur tersebut tidak bisa speeding, banyak anak kecil main di jalan (sejak kapan jalanan jadi tempat bermain anak-anak?) dan berbagai macam alasan lainnya.

How stupid and egocentric they are?

Entah mereka sadar atau tidak, perilaku mereka membuat:

1. Waktu tempuh bertambah lama

2. Kerusakan kaki-kaki kendaraan

3. Pemborosan bahan bakar (bagi kendaraan bermotor)

4. Potensi kecelakaan semakin tinggi (poldur liar sering dibuat asal-asalan, bahkan kadang tidak terlihat saat malam hari)

5. Potensi ibu-ibu hamil mengalami keguguran meningkat


Saya yakin, selain ada masyarakat yang setuju dengan poldur liar, ada juga yang tidak setuju. 

Saya termasuk yang sangat tidak setuju dengan anda yang membangun poldur liar! Apapun alasannya.

Saya lebih rela melewati jalanan rusak daripada jalanan mulus dengan poldur liar.

Lalu, apa kaitannya kondisi jalanan dengan sepeda? Kondisi tersebut membuat cyclist terpaksa mempertimbangkan ulang menggunakan citybike/roadbike, bisa anda bayangkan betapa menyebalkannya menggunakan roadbike saat anda harus melewati puluhan poldur liar.

Pilihan yang paling sesuai akhirnya hanya MTB/hybrid, dengan resiko effort dan waktu yang dibutuhkan lebih besar daripada commuting menggunakan citybike/roadbike. Tidak terhitung cyclist (roadies) yang mengalami kecelakaan bahkan kerusakan sepeda akibat permukaan jalan yang tidak mulus.

Mulai dari jari-jari patah, rim speleng, ban bocor bahkan ada yang terjatuh di tengah jalan karena permukaan jalanan yang tidak rata!!

JIKA JALAN UMUM ADALAH MILIK BERSAMA, MENGAPA POLDUR LIAR TERUS DIBIARKAN BERMUNCULAN?

APAKAH ANDA, PEMBUAT POLDUR LIAR MAU DAN DAN SANGGUP MENANGGUNG KERUGIAN KORBAN DARI POLDUR LIAR ANDA?

PIKIRKAN ITU SEBELUM ANDA PUNYA IDE MEMBUAT POLDUR LIAR!!



#gowesaja

Thursday, 9 July 2015

BIB vs Short



BIB vs short, mana yang lebih baik? Sebagai informasi, saya sejak awal main sepeda sudah terbiasa menggunakan short. Harganya yang relatif murah dan mudah dijumpai di pedagang menjadi alasan utama memilih short daripada BIB. 

Saat itu saya juga berpikir buat apa menggunakan BIB? Seperti short dikasih suspender, hahahaha. Hal itu mulai berubah saat komunitas yang saya ikuti, Tim Mawar, ingin membuat jersey set (jersey+short/BIB). Saat vote untuk menentukan BIB/short, 80% anggota memilih BIB sebagai bawahan. Ok, saya mengalah dan mengikuti suara mayoritas.



Setelah jersey sudah jadi, saya mulai berkenalan dengan BIB, pertama kali menggunakannya terasa aneh, mirip seperti menggunakan celana dengan suspender. Saya penasaran kenapa teman-teman lebih suka pakai BIB daripada short, tentunya harus ada nilai plusnya kan? Akhirnya saya coba BIB tersebut pertama kali untuk latihan di trainer.

Tidak lama untuk merasakan nilai plus dari BIB, tidak ada lipatan celana di perut, dan saya tidak takut celana melorot sewaktu-waktu. Rasanya menggunakan BIB lebih firm daripada short. Namun, dibalik kelebihan pasti ada minusnya juga, Sepertinya sulit untuk kencing saat menggunakan BIB tanpa membuka jersey, selain itu perbedaan harganya juga signifikan dibandingkan dengan short.


Dari plus minus diatas, saya yang awalnya senang menggunakan short akhirnya beralih menggunakan BIB, faktor kenyamanan lebih mendominasi dibandingkan harga dan praktikalitas.
 
Goodbye short, welcome BIB


#gowesaja

Wednesday, 8 July 2015

Online Shopping Experience: Bukalapak.com

Readers, perkenalan saya dengan dunia jual beli online bermula dari kaskus.us (masih pakai domain yang lama). Awalnya hanya mengamati transaksi, lihat-lihat barang.jasa yang ditawarkan, dan berakhir dengan coba-coba belanja online. Saat itu saya hanya mengandalkan intuisi, cek testimoni serta impresi saat berkomunikasi dengan seller.


Waluupun saat itu sudah ada rekber (rekening bersama) tapi saya malas menggunakan rekber, kenapa? Saya malas dibebankan fee rekber, malas mencoba sesuatu yang baru dan takut ribet jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, selama bertahun-tahun saya belanja online dengan model direct transfer.

Sekitar 2 tahun yang lalu, saat sepeda mulai booming, saya terdampar di bukalapak.com. Kategorisasi part sepeda yang cukup detail, ditambah dengan beragamnya spareparts membuat situs ini menjadi "wajib" dibuka hampir setiap hari, hehehehe.

Saat itu, bukalapak.com masih memperbolehkan seller mencantumkan nomor telepon di iklan mereka sehingga saya tetap saja belanja online dengan gaya direct transfer. Sekitar 1 tahun yang lalu, saat mulai marak penipuan jual beli online, bukalapak.com mulai mendevelop sistem escrownya sendiri, namun yang sangat saya sayangkan, escrownya ini memaksa semua pengguna bukalapak.com, baik penjual maupun pembeli untuk tunduk pada peraturan mereka.


Semua no. telepon seller hilang dari iklan, resistensi dan protes bermunculan. Saya termasuk member bukalapak.com yang resisten dengan hal tersebut. Saya yang terbiasa kontak langsung dengan seller via telepon jadi kesulitan. Harus kirim PM, menunggu jawaban, baru bisa kontak langsung dengan seller. Akibatnya kadang barang yang saya inginkan sudah terjual lebih dulu.

Sampai sekitar 2 bulan yang lalu, saya masih konsisten dengan gaya belanja direct transfer, PM seller, minta no. telepon, komunikasi, lalu transaksi. Suatu ketika, ada dorongan untuk mencoba sistem escrow bukalapak.com. Mulailah saya membaca tata cara transaksi via BL pay. Ternyata tidak seribet yang saya bayangkan sebelumnya. Flownya sederhana saja:

1.Pembeli pesan barang yang diinginkan

2. Masukkan data alamat, no. rekening bank yang akan digunakan untuk transaksi

3. Pembeli transfer ke rekening bukalapak.com

4. Tunggu barangnya datang

5. Barang datang, segera periksa kondisinya. Jika tidak sesuai pembeli bisa retur. Uang pembeli masih ditahan di rekening bukalapak.com

6. Jika barang sesuai dengan iklan, pembeli tinggal konfirmasi dan memberikan feedback kepada seller (jika bersedia)

7. Seller akan menerima uang pembayaran setelah mendapatkan konfirmasi dari pembeli


Seems simple and safe for each others, ok, ill try and the result was....

Its good readers!

Verifikasi pembayaran cukup cepat, CS bukalapak.com yang saya hubungi via e-mail-pun cukup cepat dalam menyelesaikan masalah terkait transaksi. Fee/kode unik yang digenerate oleh sistem untuk identifikasi pembayaran pun tidak seberapa.

Kesimpulan akhir.....sistem BL pay so far so good. Aman bagi seller maupun buyer.

Anyway, ada beberapa hal yang bisa diupgrade oleh tim bukalapak.com, seperti kategorisasi parts sepeda yang lebih spesifik (Road, MTB, Track, Tour dll.) dan menambahkan date posting dari setiap iklan.

Least..its a good e-commerce web to found almost everything you need to build and enjoy cycling experience.


#gowesaja


Am I Stop Cycling in Ramadhan?



Late article, hahahahaha

Di bulan puasa ini, mungkin readers lihat strava widget saya tidak ada perubahan, alias 0km. Apakah saya berhenti bersepeda selama bulan puasa?


Well, saya memang berhenti commuting menggunakan sepeda. Jarak tempuh 30km melewati jalur "neraka" membuat saya pesimis bisa menyelesaikannya tanpa minum sama sekali. Namun saya masih tetap bersepeda, hanya saja selama bulan puasa saya hanya latihan HIIT (High Intensity Interval Training) di rumah dan kantor menggunakan trainer.


Beberapa cyclist yang saya kenal bahkan masih ada yang tetap b2w selama berpuasa, well, jarak tempuh mereka memang dekat sehingga masih memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Selain tetap b2w, ada yang mengalihkan kegiatan bersepedanya di malam hari, alias night ride.

Jadi, bulan puasa bukan alasan untuk berhenti bersepeda, ada banyak metode yang bisa anda pilih sesuai dengan kondisi anda:

1. Indoor training
2. Ngabuburide
3. Night ride

Apapun metode yang akan anda lakukan, jangan memaksakan diri. Recovery time akan berlangsung lebih lama daripada biasanya karena tubuh anda tidak bisa maksimal mendapatkan pasokan nutrisi dan cairan.

Stay health and strong?

#gowesaja

Wednesday, 1 July 2015

The Right Bike For You (e-book)

Memilih sepeda yang tepat untuk commuting terkadang membingungkan. Begitu banyak tipe sepeda dan varian partsnya bisa membuat anda speechless saat belanja online maupun datang ke toko sepeda. Membeli sepeda hanya karena suka dengan paint schemenya atau suka dengan modelnya? Sound's familiar? Yes!

Banyak calon cyclist yang tidak riset terlebih dahulu sebelum membeli sepeda pertamanya. Hal ini bisa berakhir menyenangkan (jika membeli sepeda yang ternyata cocok dengan kebutuhannya) dan bisa berakhir menyebalkan (jika membeli sepeda yang ternyata TIDAK cocok dengan kebutuhannya).

Supaya anda tidak membuang uang sia-sia, saya share e-book dari cycle lab yang cukup informatif dan mampu membantu anda untuk memilih sepeda yang tepat.

Silahkan klik gambar di bawah ini:


Dalam e-book tersebut, anda akan dibimbing untuk mendapatkan kesimpulan akhir sepeda tipe apa yang sesuai untuk kebutuhan anda. Just take a few minutes to finished the book. So what are you waiting for? Download now and......


Happy Reading! Ride On!