Pages

Thursday, 28 May 2015

Commuting with 20" Folding Bike and Commuter Line

Beberapa hari lalu, bermodal nekat, akhirnya saya mencoba mix commuting menggunakan sepeda lipat 20" dan kereta untuk ke kantor. Sebetulnya sudah lama saya mau mencoba hal ini, hanya karena sepeda lipat-nya belum siap, tertunda terus. 2 minggu yang lalu, akhirnya saya bisa membeli rak belakang untuk sepeda lipat, yes! Langsung instalasi sendiri di rumah dan work very well. 

Siap berangkat
Awwalnya saya mau survei dulu, di jam berangkat dan pulang yang akan saya lalui, kondisi penumpang di Commuter Line (CL) memungkinkan atau tidak untuk membawa sepeda lipat. Saya sempat mendengar beberapa issue, user seli yang naik di CL dihujani tatapan bermusuhan oleh penumpang CL lainnya, karena seli yang dibawa masuk gerbong mengurangi space untuk orang yang berdiri.

Well, saya tidak mau berdebat soal itu, peraturan dari PT. KAI sendiri sudah jelas, sepeda lipat sampai dengan 20" masih boleh masuk ke gerbong CL. Hanya karena kapasitas gerbongnya saja yang kurang sebanding dengan penggunanya, membuat user seli harus pintar-pintar mengatur jadwal berangkatnya.

Jadwal survei akhirnya berantakan karena kesibukan kerja, ya sudahlah, nekat saja coba bawa seli ke CL. Gowes seli ke Stasiun Kranji, sampai tujuan langsung dilipat dan masalah pertama mulai timbul. Gerbang tiket di stasiun kurang lebar untuk saya yang sedang menggendong seli, wkwkwkwkw.

Jadi, seli harus diloloskan dulu dari palang gerbang, supaya saya bisa lewat dari gerbang tiket. Masalah pertama selesai, berlanjut dengan kebingungan apakah harus naik kereta yang langsung ke arah kantor, atau naik kereta yang ke arah Stasiun Bekasi dulu agar dapat space yang enak?

Di Stasiun Kranji
Akhirnya ambil keputusan naik CL yang ke arah Bekasi dulu, sip, kondisi gerbong lengang dan saya bisa ambil posisi duduk yang enak untuk membawa seli. Posisi yang enak itu duduk dekat pintu gerbong, saya duduk dan tangan kanan/kiri memegang seli yang ditaruh di dekat pintu.

Di dalam gerbong CL
Perjalanan menuju kantor tidak mengalami kendala yang berarti, lancar-lancar saja. Nah, saat mau pulang, saya kembali galau. Mau coba naik kereta lagi atau full gowes sampai rumah? Dengan pertimabang CL arah Bekasi yang sedikit jumlahnya ditambah sering masuk antrian di Stasiun Manggarai dan Jatinegara, akhirnya memutuskan full gowes sampai rumah.

Wow, pengalaman pertama nih, gowes Gambir-Jatiasih dengan seli 20". Berharap jarak tempuh 30km bisa ditempuh dalam 2 jam dan...yup, ternyata bisa!!


Well, 1st experiencenya cukup menyenangkan, someday setelah survei kondisi pulang sudah dilakukan saya baru akan coba bawa seli naik CL saat pulang kerja. Kalau ternyata bisa, terbayang enaknya commuting menggabungkan sepeda dan kereta. Saat capai gowes, bisa naik kereta, saat kereta gangguan, saya bisa gowes. hmmmm...sounds very gooooodddd.



Keep cycling and have fun!


4 comments:

Gandreas said...

mantaps... mau juga sih bawa seli gw nih... nanti dah...

Decky Putra said...

sip...segera jalankan om.

mungkin jika banyak commuter yang bawa seli ke CL, KAI akan mempertimbangkan gerbong khusus untuk bawa sepeda seperti di eropa...hehehehehe

Lalu Rommy Arbantas said...

Mantap. Kirain yg ukuran 16" doang yang boleh naik

Jovanka Pratama said...

Seli mtb ane 26" bisa tembus ga yah?