Pages

Tuesday, 30 December 2014

More Challenge In Winter

Musim hujan sudah datang. Suka tidak suka, mau tidak mau, commuting tetap harus jalan. Sebagian cyclist tetap bersepeda, namun ada juga yang "puasa" bersepeda. Apakah cyclist yang "puasa" bersepeda itu lemah? Tidak juga. Banyak faktor yang membuat mereka "puasa" bersepeda saat musim hujan.



Bagi anda yang punya keinginan untuk tetap commuting menggunakan sepeda, berikut ini beberapa tantangan yang akan anda hadapi, head's up always good right? Check this out:

1. More weight to carry


Jas hujan, mungkin beberapa ada juga yang membawa spare baju cadangan tentunya membuat barang serta beban yang anda bawa bertambah. Pertimbangkan dimensi barang tambahan anda, apakah masih muat di pannier? Atau masuk ke tas ransel/messenger bag? More weight means more power needed to move. Jangan heran jika b2w anda lebih melelahkan dibandingkan biasanya.

2. Wet, wet, wet


You must ready to wet, namanya juga musim hujan, pasti ada kemungkinan anda mandi hujan saat commuting. Sepeda belepotan kotoran, kedinginan serta kondisi fisik tubuh yang menurun biasanya cukup membuat anda berpikir ulang untuk tetap b2w saat musim hujan. Am i right?

3. Going where the wind blow


Jika hujan saja masih belum mematahkan semangat anda untuk b2w, meet the biggest challenge in winter, the big wind. Pada musim hujan, jika hujan tidak turun, biasanya angin berhembus cukup kencang, luck for you jika arah angin berhembus dari belakang badan anda, tapi bagaimana jika angin berhembus dari depan anda? Flat road serasa tanjakan saat terkena big headwind.

4. Flood on the street


Drainase yang buruk ditambah curah hujan yang tinggi, biasanya membuat banyak "kolam bebek" muncul di jalanan. Hal ini membuat kemacetan, dan mungkin anda harus mencari rute lain yang aman. Memakan waktu serta tenaga yang lebih banyak daripada biasanya. Bersiaplah untuk mode "hop and ride". alias TTB (tuntun bike :D)


Nah, itu beberapa tantangan yang akan anda hadapi saat b2w di musim hujan, please consider carefully before you go. Sometimes, menggunakan kendaraan lain selain sepeda untuk b2w lebih aman pada musim hujan.



Psstt...musim hujan waktu yang tepat untuk build endurance lho, kenapa? Tunggu artikel berikutnya.


Run with fats, not oils

Ride On!

Monday, 29 December 2014

Komparasi Jas Hujan Untuk Bersepeda (Commuting)

Bagi sebagian cyclist, hujan tidak menjadi halangan untuk tetap bersepeda, entah untuk berolahraga, maupun commuting. Jika tujuannya hanya untuk olahraga, mungkin tidak terlalu bermasalah berbasah-basah tanpa jas hujan, namun bagaimana dengan cyclist yang bersepeda untuk commuting? Jas hujan tentunya menjadi aitem wajib yang harus dibawa dan digunakan saat musim hujan.


Sampai saat ini, saya pribadi belum pernah menemukan jas hujan yang lengkap (baju+celana) khusus untuk cyclist. Selama kurang lebih 4 tahun b2w saya sudah coba berbagai jenis dan merk jas hujan untuk menemani kegiatan b2w saya. Berikut akan saya share plus minus dari berbagai jas hujan yang pernah saya pakai untuk b2w.

1. Axioo Europe


Model: 2 pieces (jaket + celana panjang)

Packing: Besar sekali dan cukup berat untuk dibawa-bawa, anda butuh tas minimal dengan kapasitas 15l untuk membawa jas hujan ini.

Performa: Saat dikenakan terasa berat di badan, walupun badan terlindung dari hujan, namun badan tetap basah kuyup akibat keringat yang timbul karena minimnya ventilasi pada jas hujan ini. Celananya juga tidak bisa untuk bersepeda. Setelah saya pakai 1 kali, jahitan pada bagian selangkangan mulai terlepas, dan setelah 3 kali pemakaian, saya resmi "ngompol" saat mengenakan celana tersebut. 

Overall rating: 2/5


2. BBB Rain Shield


Model: Jacket

Packing: Bisa dilipat sampai jadi ukuran kecil dan sangat ringan.

Performa: Saya tertarik membeli jas hujan BBB ini karena katanya anti air namun breatheble, alias tidak gerah saat digunakan, saya lihat memang ada ventilasi yang cukup besar di bagian kanan-kiri jaket tersebut. Jika hanya gerimis, jaket ini masih mampu menahan air, tapi saat hujan deras, ventilasi yang besar membuat jaket ini useless. Memakai jaket ini, tetap terasa gerah, namun tidak separah Axioo. 

Overall rating: 3/5


3. Tiger Head

Model: Ponco

Packing: Slim, tidak memakan tempat terlalu banyak di tas, bahkan bisa diselipkan di kantong jersey :D.

Performa: Sebelum pada protes bahwa jas hujan model ponco tidak safety bla, bla, bla. Saya setuju jas hujan ponco tidak safety jika digunakan untuk naik motor, untuk naik sepeda bagaimana? Dengan speed yang cenderung rendah drag resistance bukan menjadi issue disini, Bagaimana dengan kemungkinan jas hujan tersangkut di rantai sepeda? Saat saya pakai, dan duduk di saddle, bagian terpanjang jas hujan ini hanya sampai di bawah lutut, dan saat turun dari sadel, tetap saja tidak ada bagian jas hujan yang menggelantung mendekati gir/rantai sepeda.

Sejujurnya saya surprise dengan experience menggunakan ponco untuk bersepeda, tas punggung terlindungi dari hujan, celana pendek yang saya gunakan juga tidak basah sama sekali (tidak pernah terjadi saat menggunakan Axioo dan jaket BBB). Selain itu, ventilasinya yang sangat besar membuat badan tidak terlalu gerah, karena banyak angin yang masuk (dingin sih, tapi masih bisa dibantu dengan vest atau jaket).

Overall rating: 4,5/5

Kesimpulan, dengan harga murah (Rp40.000, bahkan jika anda membeli ponco yang bahannya tipis, harganya hanya Rp10.000, namun mudah sobek, handle with very-very care, wkwkkw), packing yang slim serta mampu mengcover tubuh mulai dari kepala sampai lutut, membuat saya lebih prefer pakai jas hujan ponco untuk rain gear saat bersepeda.

Semoga bisa membantu om dan tante dalam memilih rain gear yang sesuai untuk bersepeda.


Ride ON!!

Run with fats, not oils.

Thursday, 25 December 2014

Review: Ban Maxxis Larsen Mimo CX 700x32

Ban ini digunakan di WS harian Browniee saat musim hujan dan juga terpasang di rear WS Hemster. Milage sekitar 400 km dengan pemakaian di berbagai kondisi jalan mulai dari aspal mulus, beton sampai jalan berbatu sudah pernah mencium ban ini :D.

Namun ada yang aneh dari ban ini, sizing-nya 700x32 namun saat dibandingkan dengan ban road/commuting Schwalbe Marathon 700x30, ternyata lebih lebar ban Schwalbe Marathon 700x30 daripada Maxxis Larsen Mimo CX 700x32.


Saya tidak tahu, apakah karakter ban CX memang seperti itu atau mungkin Maxxis salah cetak ukuran ban? Hahahahaha, Maxxis Larsen Mimo CX 700x32 ini lebarnya seperti ban road 700x28.

Nah...masuk ke review secara singkat:

1. Rolling resistance

Asphalt mulus terasa cukup berat untuk akselerasi (Tekanan angin max hanya 75 Psi, bandingkan dengan ban road yang tekanan angin Min-nya 90 Psi), namun saat melewati asphalt rusak (gravel) dan beton, slurppp, feel fast :D. 

2. Grip

Dalam kondisi kering tidak ada masalah, aspal, beton, gravel, semua oke. Saat kondisi basah ban ini alergi dengan yang namanya lantai batu, loose grip saat lewat lantai dari batu (contoh, jalanan di sekitar Taman Suropati).

Goyang dombret disini kalau basah :D
3. Durability

400 km without puncture, im lucky hehehehe.Tapi sesuai review di luar negri, knobnya cepat habis, hiks, saat ini ban belakang sudah terlihat mulai habis knob bagian tengahnya. Mungkin setelah 1000 km ban ini sudah perlu diganti.

4. Practical

Seperti ban Maxxis lainnya, ban ini sangat mudah dibongkar-pasang, ramah terhadap tyre lever dan "mengembang" dengan sempurna.

5. Price

Saya beli ban ini sepasang dengan harga Rp400.000, hiks, masih mahal, ternyata ada yang jual dengan harga Rp350.000 sepasang. Jika berminat bisa kontak salah satu sellernya, Immanuel Bikes di Facebook. (FYI saya tidak punya hubungan bisnis lo dengan seller-nya)

Conclusion

Ban ini recommended bagi anda yang punya rute bersepeda melewati gravel maupun beton, Namun jangan berharap ban ini bisa bertahan lama jika digunakan melewati trek seperti diatas. Dengan harga Rp350.000 sepasang, ban ini merupakan ban CX termurah yang saya tahu di Indonesia.


Ride On!

Run with fats, not oils

Wednesday, 24 December 2014

10 Inovasi Yang Mempengaruhi Dunia Sepeda

Perkembangan teknologi di dunia sepeda semakin cepat dan maju. Bobot sepeda semakin ringan, tipe frame semakin spesifik, efisiensi daya dalam drivetrain yang meningkat dan banyak lagi kemajuan teknologi yang bisa kita lihat dan nikmati saat ini.

Namun dibalik semua inovasi tersebut, ada 10 hal yang merubah dunia sepeda secara signifikan. Apa saja? Check this out:

1. Quick Release Skewers


Ditemukan oleh Tullio Campagnolo, QR skewer saat ini menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan pada mayoritas sepeda modern. QR banyak digunakan karena praktilitas dan kemudahan dalam menguperasikannya. Anda tinggal pull off levernya, putar berlawan arah jarum jam dan roda anda sudah bisa terlepas dari sepeda. No tools required and less time to do.

2. Clipless Pedals


Pertama kali dikembangkan oleh Look, dengan meniru cara kerja ski binding mereka. Saat ini clipless pedal menjadi hal yang common digunakan oleh para pro riders. Bahkan casual cyclist seperti saya saja senang menggunakan clipless pedal, hahahahaha. Clipless pedal disukai karena kemampuannya untuk power delivery dan clip in-out yang lebih efisien dibandingkan dengan pedal biasa ataupun clip pedal. Saat ini banyak sekali tipe clipless pedal, dimana setiap pabrikan mempunyai desain yang berbeda-beda dan tentunya mempunyai kelebihan dan keunggulannya masing-masing.

3. Carbon Fiber


Nah ini, material eksotis yang merubah bobot parts/sepeda secara drastis dari tahun ke tahun. Hampir semua parts sepeda bisa dibuat dari carbon fiber kecuali karet ban, hehehehehe. Trek Emonda membuat dunia sepeda terkesima dengan bobotnya yang hanya 4,6 kg dalam kondisi fullbike!!. Selain menggoda dompet para weight weenies, carbon fiber juga menawarkan fleksibilitas dalam manipulasi tubing. Dengan menambahkan layer, resin yang berbeda, bahkan wave yang berbeda pabrikan bisa mensetting bagian mana yang perlu dibuat flex, bagian mana yang perlu dibuat stiff.

4. GPS computers


Garmin menjadi device yang happening digunakan oleh cyclist saat ini. Garmin menawarkan fitur GPS dnegan kemampuan plus-plus-plus hahahahaha. Cyclist dapat mengetahui route, max speed, current speed, elevation dll. hanya dari satu device yang terpasang di handlebar. Selain itu cyclist juga bisa narsis performanya dengan upload ke Strava. Rute-rute yang tadinya hanya diketahui oleh orang lokal, kini dapat diketahui oleh seluruh orang.

5. Electronic Groupset


Wecome to the new age of drivetrain!! Saat ini pengembangan electronic drivetrain masih tahap baby sepertinya, kenapa baby? Karena hanya groupset kelas atas yang baru punya fitur seperti itu (Ultegra dI2, Dura-Ace dI2 dll) Sepertinya kita perlu menunggu beberapa tahun lagi agar grupset low end pun punya fitur electronic shifting. Electronic shifting membuat kita say goodbye kepada kabel shifter dan tidak perlu pusing setting RD dan FD lagi. Bukan tidak mungkin kedepannya ada fitur electronic braking dan automatic shifting.

6. Pneumatic tyres


Many thanks to Mr. Dunlop, pneumatic tyre mempunyai dampak yang sangat signifikan pada laju dan kenyamanan kendaraan, sepeda termasuk yang terkena dampak positif dari ditemukannya ban bertekanan. Bayangkan jika sampai saat ini ban sepeda masih pakai ban mati, hehehehehe.

7. STI levers


Shimano Total Integrated lever, mempunyai pengaruh yang sangat signifikan di dunia sepeda, improve handling, kecepatan pindah gigi maupun kenyamanan dalam bersepeda. Pabrikan lain seperti Sram dan Campagnolo pun membuat brifter masing-masing tidak terlepas dari konsep dasar desain STI.

8. Aluminium Wheel Rim


Pada awalnya roda sepeda dibuat dari kayu, lalu setelah James Watt menemukan mesin uap, maka roda dari kayu perlahan digantikan oleh roda dari besi. Seiring perkembangan teknologi, bahan aluminium sekarang banyak digunakan untuk membuat roda sepeda. Ringan, anti karat, dan braking yang efisien membuat aluminium wheels masih stay in here walaupun carbon wheels banyak bermunculan. Pada beberapa carbon wheels, bahkan masih menggunakan aluminium pada brake line-nya karena sampai saat ini carbon belum bisa mengalahkan aluminium dalam hal braking efficiency.

9. Lycra


Roadies wear lycra, hehehehhe, bahan yang satu ini membuat perubahan yang drastis dalam pakaian bersepeda. Cyclist saat ini bisa mengenakan pakaian yang body fit namun fleksibel, bahkan pakaian sepeda saat ini berpengaruh dalam meningkatkan aerodinamika. Selain kostum untuk bersepeda, lycra juga banyak digunakan untuk compression clothes dan pakaian olahraga lainnya.

10. Derailleur Gears


Sebelum ada derailleur gear, kita hanya mengenal drivetrain single gear. Pada tour de france terdahulu, pembalap sepeda harus menepi, melepas roda belakang dan memutar posisinya hanya untuk mengganti gir yang akan digunakan untuk menanjak. Bagi beberapa orang single gear memang tidak jadi masalah. Tapi mayoritas akan berpendapat "its pain in the ass". Sistem pemindah gigi ini akhirnya berpengaruh sekali terhadap akselerasi maupun AVG speed yang dicapai oleh seorang cyclist.


Run with fats, not oils.

Tuesday, 23 December 2014

Cycling Humor

Aloha...lets smile and laugh together this time :)

Cyclist shows up at the local race on a new bike.
His friends all ask, “Where did you get a new bike?”
The cyclist replies, “Well, yesterday I was out running when this absolutely beautiful woman rode up to me on this bike. She threw the bike to the ground, took off all her clothes and said, “Take what you want!”

Still fast and fabulous

Q: Why couldn't the bicycle stand up on its own?
A: It was two tired




You Know You're Addicted To Cycling When... your surgeon tells you you need a heart valve replacement and you ask if you have a choice between presta and schrader.




Ride On!

Run with fats, not oils

Magazine Scrap: Motorcycle Test Pt 3

Here are Magazine Scrap: Motorcycle Test Part 2, dengan menu:

1. MV Agusta F3 800
2. Peugeot Django
3. Scomadi Turismo Leggera 300
4. Suzuki Inazuma 250Z
5. Triumph Tiger 800

Silahkan download dengan klik gambar di bawah ini:


Happy reading

Ride safe, obey the rules

Monday, 22 December 2014

Review: Ban Deli tire 700 x 23


Ban ini digunakan di WS harian Browniee, even fixed but never been use to skid, wkwkwkw. Milage sekitar 600 km dengan pemakaian di berbagai kondisi jalan mulai dari aspal mulus, beton sampai jalan berbatu sudah pernah mencium ban ini :D. Nah...masuk ke review secara singkat:

1. Rolling resistance

Well, what do you expect from Rp 50.000/each bike tyre? Slowly in both, acceleration and top speed.

2. Grip

Dalam kondisi kering tidak ada masalah, aspal, beton, gravel, semua oke. Saat kondisi basah pun tidak terlalu mengecewakan.

3. Durability

600 km without puncture! Badak abis! Saat ini masih tebal sekali groovenya, mungkin masih bisa bertahan sekitar 600-1000 km lagi. Rekomended untuk training tyre di trainer yang menggunakan tyre resistance.

4. Practical

Perlu effort extra serta skill yang baik untuk membongkar/pasang ban ini dari wheelset, bukan ban yang mudah untuk di-assembly oleh pemula. Tips, gunakan tyre lever logam untuk membuka ban ini! Tyre lever dari plastik atau nylon kemungkinan besar akan patah (Korban 2 tyre lever merk PRO :( ) saat anda gunakan untuk membuka/memasang ban ini. Jika anda sial, maka ban ini akan sangat sulit untuk "mengembang dengan sempurna walupun sudah anda oleskan oli di tyre wall-nya.

5. Price

Rp 50.000 per biji, the cheapest road bike tyre i ever buy! Cari di toko/bengkel sepeda kecil, jangan cari di Rodalink, BAB apalagi bike colony, kelasnya beda :D


Ride On!

Run with fat, not oils

Sunday, 21 December 2014

Magazine Scrap: Roadbike Pt 8

Another mag'z scrap again fellas, kali ini tentang roadbike test/review, yang terdiri dari:

1. Storck Aernario Disc
2. Nichelson Proctor
3. Orro Gold
4. Focus Izalco Max 1.0
5. Ligthweigth Urgestalt
6. Scott Addict Team Issue

Silahkan download file-nya dengan klik gambar di bawah ini:


Happy reading.

Run with fats, not oils.

Friday, 19 December 2014

Magazine Scrap: Motorcycle Test Pt 2

Here are Magazine Scrap: Motorcycle Test Part 2, dengan menu:

1. Aprillia RRV Racing
2. BMW S1000RR
3. Ducati Superleggera
4. Hesketh 24
5. Indian Chieftain

Silahkan download dengan klik gambar di bawah ini:


Happy reading

Ride safe, obey the rules

Thursday, 18 December 2014

EDC (Everyday Carry) Emergency Pack

Be honest, we never know when shit happens to us right? Tidak ada salahnya mempersiapkan diri untuk menghadapi worst situation. Saat ini mulai Indonesia mulai masuk musim hujan. Para commuter akan menghadapi situasi yang snagat menantang dan menyebalkan. Kemacetan total, banjir, akses tertutup dan hujan akan menghiasi hari-hari para commuter di musim hujan.

Who wants that? Nobody, but its a mother nature calls. Prepare or get worst.


So, what is EDC Emergency Pack? EDC Emergency Pack adalah perlengkapan emergency yang selalu dibawa setiap hari untuk memastikan anda bisa survive dalam 1 hari. Lalu, kenapa sih harus report mempersiapkan EDC Emergency Pack? Kan banyak minimarket atau toko?

Yup, di kota besar memang banyak toko yang menjual kebutuhan sehari-hari, namun, dalam kondisi tertentu terkadang kita tidak bisa menuju ke toko tersebut, misalkan akses jalan ke toko tersebut tergenang air setinggi 2 meter atau akses jalan ke toko tersebut macet total. Anda butuh sesuatu, anda punya uang, tapi anda tidak bisa mendapatkan baraang yang anda butuhkan saat itu juga.

Contoh kasus sederhana, anda terjebak macet total di dalam tol, situasi di luar hujan deras, dan rest area terdekat masih 15 km lagi jaraknya. Bayangkan jika saat itu anda merasa haus dan lapar, namun tidak ada air dan makanan di mobil anda. Betapa menyiksanya merasakan haus dan lapar dalam kondisi seperti itu.


Secara general, isi dari EDC Emergency Pack adalah:

1. Tools

2. P3K

3. Uang tunai

4. Makanan dan minuman


ke 4 aitem tersebut bisa di-customized sesuai kebutuhan anda, dan ingat, jangan overstock. EDC Emergency Pack hanya untuk survival dalam waktu 1 hari dan untuk 1 orang di luar rumah. Makin banyak aitem yang anda bawa maka semakin besar dan berat pula EDC Emergency Pack anda. Just KISS (Make It Simple Stupid).

Langkah-langkah dalam mempersiapkan EDC Emergency Pack

1. Buat list



2. Kumpulkan barang-barang yang ada di list




3. Cari tempat untuk mengumpulkan barang-barang yang ada di list menjadi 1 atau 2 tempat



4. Efisiensi dalam packing



Maintenance EDC Emergency Pack

Anda hanya perlu membuat jadwal check aitem dalam EDC Emergency Pack 1-2 bulan sekali, make sure obat-obatan serta makanan/minuman tidak kadaluarsa dan peralatan yang anda butuhkan lengkap dalam kondisi siap pakai.

Ok, EDC Emergency Pack sudah siap, taruh di tas anda dan lupakan. Jangan gunakan apapun yang ada di EDC Emergency Pack anda kecuali anda dalam situasi yang terdesak dan satu hal lagi, belajar bilang "tidak" mulai sekarang kepada orang lain.


Last, semoga kita semua tidak pernah punya kesempatan menggunakan EDC Emergency Pack.


Tuesday, 16 December 2014

Magazine Scrap: Roadbike Pt 7

Another mag'z scrap again fellas, kali ini tentang roadbike test/review, yang terdiri dari:

1. Stoemper Darrell
2. Cannondale CAAD 10
3. Independent Fabrication Steel Crown Jewel
4. Guru Photon R
5. Pinarello Dogma 65.1 Think 2
7. Passoni Top Force W

Silahkan download file-nya dengan klik gambar di bawah ini:



Happy reading.

Run with fats, not oils.

Monday, 15 December 2014

Petir? Siapa Takut? Saya Takut, Hii....

Salah satu fenomena alam yang membahayakan saat musim hujan adalah petir. Sambaran listrik berdaya sangat tinggi yang terkadang menyambar bangunan, pohon maupun mahluk hidup. Hujan sendiri sudah merupakan tantangan bagi para commuter, jika ditambah petir, bersiaplah untuk segera mencari shelter.



Always bear in your mind, thunder is dangerous and you must find the shelter immedietly. Jika anda menggunakan sepeda/motor, segera parkir dan cari perlindungan di bangunan, jangan berteduh di bawah pohon. Kenapa? Petir biasanya menyambar struktur yang tinggi, jika pohon tempat anda berteduh tersambar petir ada kemungkinan besar anda cedera, entah karena tersetrum atau tertiban pohon yang jatuh. 



Find the safe shelter



1. Cari bangunan dimana anda bisa/diperbolehkan masuk kedalam ruangan, teras ruko atau pertokoan hanya bisa melindungi anda dari hujan, tidak dari kemungkinan tersambar petir.

2. Matikan semua alat elektronik yang anda bawa.

3. Jika anda berteduh di kafe/rumah makan atau tempat apapun yang menyediakan soket listrik, jangan charge peralatan elektronik anda saat petir masih menyambar. Jika bangunan tersebut tersambar petir, dijamin peralatan elektronik yang terpasang pada soket listrik akan rusak karena lonjakan tegangan tiba-tiba, even alat tersebut dalam kondisi mati.

4. Jauhi jendela, jangan bersandar di pintu. Jika memungkinkan duduklah di tempat yang mampu mengisolasi arus listrik, seperti kursi kayu maupun sofa. Gunakan sepatu atau sendal sebagai isolator tambahan.

5. Jangan menyentuh apapun yang terbuat dari metal pada bangunan tempat anda berlindung.


The 30-30 rules



Saat anda melihat kilat menyambar jika terdengar suaranya kurang dari 30 detik, berarti jarak anda cukup dekat dengan petir, segera cari shelter, tunggu sekitar 30 menit sebelum anda keluar dari shelter. Lama ya? Namanya juga cari aman, hehehehe.


The safest to do



1. Selalu pantau perkiraan cuaca sebelum anda keluar rumah

2. Jika memungkinkan, batalkan semua janji anda saat ramalan cuaca mengatakan hujan disertai petir.


Better wet then fried

Saturday, 13 December 2014

Magazine Scrap: Motorcycle Test

Bingung dengan judul diatas?

Apakah blog ini mulai kehilangan fokus?

Tenang, dari awal blog ini tujuannya memang fokus kepada dua hal, yaitu sepeda dan motor.

Kenapa motor masuk juga? Well, pada awalnya saya lebih banyak bermain di motor, dengan Honda Tiger 2000 tahun 2005 banyak riding experience serta berbagai tips and trick yang saya dapatkan. 

Sampai saat ini saya juga sesekali memakai motor untuk commuting. Namun ada yang berbeda, dulu porsi menggunakan motor dan sepeda adalah 80:20, sekarang terbalik, jadi 20:80, hahahahahaha. Saya lebih banyak pakai sepeda dibanding motor.

Lalu, kenapa baru sekarang ada artikel tentang motor? 

Simpel, sejak beralih menggunakan sepeda, passion saya terhadap motor mulai agak berkurang sehingga mulai jarang browsing, main ke bengkel maupun touring. Beberapa waktu lalu dengan banyaknya motor baru yang di-launching (Ducati Srambler, Kawasaki H2), passion yang sempat redup itu tiba-tiba kembali menyala dengan terang. 

Well, blog ini kedepannya akan mencoba konsisten dengan porsi pembahasan sepeda 80% dan motor 20%, karena saya rasa om dan tante selain menggunakan sepeda mungkin juga banyak yang menggunakan motor untuk commuting.

Tidak ada salahnya saya berbagi ilmu dan experience tentang motor disini. Mungkin bisa membantu om dan tante semua.

Apakah akan membahas mobil juga? Well saat ini roda 4 out of my league.

So, lets started, here are Magazine Scrap: Motorcycle Test, dengan menu:

1. KTM 690 Enduro R
2. Harley Davidson Road Glide
3. Can-Am Spyder RT Limited
4. Honda CBR 300 R
5. Yamaha Star Styker

Silahkan download dengan klik gambar di bawah ini:



Happy reading

Ride safe, obey the rules

Friday, 12 December 2014

Bike Setup In Rainy Day

Di musim hujan, tidak ada jalan lain selain berkompromi dengan kondisi yang basah, becek dan licin. Jika pada artikel sebelumnya anda sudah bisa kompromi dengan kondisi lingkungan, sekarang saatnya anda berkompromi dengan setup sepeda anda.

Sebetulnya tidak banyak perubahan yang perlu anda lakukan supaya sepeda anda siap hujan-hujanan, bahkan beberapa hal dibawah ini bisa saja anda tidak lakukan, tentunya ada konsekuensi yang harus anda tanggung, dan terkadang konsekuensinya bisa sangat menyebalkan.

1. Fender bender

Beberapa cyclist tidak mau memasang fender di sepedanya karena banyak faktor, mulai dari penampilan, sampai tidak tersedia fasilitas untuk memasang fender di sepedanya. Pada musim hujan, fungsi fender sangat penting, mencegah kotoran dan air mengenai pakaian anda. Lupakanlah penampilan sepeda anda sejenak. Anda tinggal pilih, cuci pakaian yang kotor terkena cipratan air atau sedikit tambahan beban dan city bike look di sepeda anda?



Jika anda memutuskan memasang fender, tipe fender yang paling efektif dalam menahan cipratan air adalah tipe full fender. Downtube atau seatpost fender dengan quick release mampu menahan cipratan air, namun area perlindungan yang diberikan tidak sebanyak full fender.

2. Leave your slick, skinny tyre in home

Dalam kondisi basah, grip yang didapatkan oleh ban akan berkurang karena efek aquaplanning (dalam gambar di bawah, hydroplane).


Ban bukannya menempel di permukaan jalan, melainkan mengambang di atas permukaan air. Untuk mengurangi efek tersebut dan mendapatkan lebih banyak grip, ganti ban slick dan profile kecil anda dengan ban thread dan profile yang lebih besar, contoh, dari ban slick 700x23 ganti ke ban thread 700x28.



Bagi anda yang sering lewat jalan banjir, berlumpur (common in Jakarta, hahahaha) dan cenderung rusak (gravel) pertimbangkan knobby tyre. Ban tersebut memang membuat laju sepeda lebih pelan di jalan mulus namun memberikan grip maksimal dalam kondisi jalan rusak dan berlumpur.

Selain mengganti ban, ada satu trick lagi untuk mendapatkan grip maksimal, yaitu, mengurangi sedikit tekanan angin di ban sepeda anda. Berapa banyak? Secukupnya. Bobot sepeda dan setiap cyclist berbeda-beda, temukan sendiri tekanan ban yang ideal untuk anda.

3. Leather Nightmare

Pakai jok kulit? Semacam Brooks atau produk sadel kulit lainnya? Di musim hujan ini sebaiknya lepas dulu sadel kulit kesayangan anda, produk kulit bermusuhan dengan air, membuat warna luntur, bau, kaku dan jamuran. anda bisa pakai semacam jas hujan untuk sadel tersebut, namun saya rasa lebih baik ganti sadel sementara saja dengan yang menggunakan synthetic leather.



4. Leave your "racy" setup for a while

Pakai narrow handlebar seperti xc racer? Atau pakai dropbar? Sebaiknya simpan dulu parts tersebut selama musim hujan, dengan kondisi basah yang terkadang membuat licin permukaan jalan, anda lebih butuh handling yang super dari pada "racy/speedy look". Gunakan wide bar, yang pakai dropbar mungkin bisa ganti ke flatbar untuk sementara waktu. Cant afford changing handlebar? Tidak masalah, deal with the handling, ride slowly and expect the unexpected.

Hybrid, flatbar with dropbar

5. Get a grip in your pedal

Pastikan pedal anda tetap "menggigit" sepatu/sepatu sendal anda, tingaalkan sementara pedal plastik yang licin, ganti pakai pedal yang memiliki "spike". Tulang kering terbentur pedal itu sakitnya.......amazing.



Run with fats, not oils

Thursday, 11 December 2014

Magazine Scrap: MTB Pt 3

Another mag'z scrap again fellas, kali ini tentang MTB test/review, yang terdiri dari:

1. Niner WFO 9
2. GT Sensor Expert
3. Kona Process 111 DL
4. Surly ECR
5. Fuji SLM 29 1.1
6. Fatback 190 x01
7. Santa Cruz Nomad
8. Rocky Mountain Thunderbolt 770
9. Yeti 575
10. Ibis Tranny 29
11. Swobo Mutineer

Silahkan download file-nya dengan klik gambar di bawah ini:


Happy reading

Run with fats, not oils

Wednesday, 10 December 2014

Magazine Scrap: Roadbike Pt 6

Another mag'z scrap again fellas, kali ini tentang roadbike test/review, yang terdiri dari:

1. Scott Plasma 10
2. Cube Aerium Super HPL SLT
3. Cervelo P5 six
4. Storck Aero 2 IS
5. Willier Cento 1 Air
6. Neil Pryde Bura SL
7. Argon 18 Gallium Pro
8. Giant Envie Advanced 2

Silahkan download file-nya dengan klik gambar di bawah ini:


Happy reading.

Run with fats, not oils.

Tuesday, 9 December 2014

Cycling In Rainy Day

Hujan turun!!

Jalanan mulai becek, dan kemacetan akibat genangan air mulai jadi penghuni tetap di media massa.

Apakah hujan akan menyurutkan niat saya b2w? Nope. Kecuali dalam keadaan darurat dan terdesak, saya akan tetap b2w meski dalam kondisi hujan sekalipun.

Here, i want to share riding experience in rain condition, maybe you can grab some information.

1. Deal with the metal



Tutup pembuangan air (man hole), rel kereta, mata kucing dll, akan menjadi sangat licin saat terkena air, sebaik apapun ban yang anda gunakan pasti sliding saat terkena permukaan yang terbuat dari metal. Kurangi kecepatan, kalau perlu berhenti dan jalan kaki saat melintasi permukaan yang terbuat dari metal. Jatuh karena terpleset serta terlindas atau tertubruk kendaraan lain di jalan adalah hal terakhir yang anda inginkan saat b2w.

2. Stone tile? Be very, very carefull


Di beberapa ruas jalan, ada permukaan jalan yang terbuat dari batu, contohnya di permukaan jalan di sekitar Taman Surapati, Jakarta. Nah, berdasarkan pengalaman saya, ruas jalan tersebut sangat menyebalkan, licin, apalagi yang ada lumutnya, damn!! Pemkot harusnya menyingkirkan permukaan jalan yang licin dan membahayakan. Oh iya, sekarang trotoar banyak yang diperbaiki dan diganti permukaannya dengan lantai dari batu, mimpi buruk bagi anda yang suka naik trotoar dengan sepeda saat hujan. Sudah permukaannya licin ditambah lagi lantai batunya tidak stabil karena pasirnya hilang terbawa air. Keren kan?

3. Awas, Jebakan Batman!



Anda tidak pernah tahu ada apa di dalam genangan air, hindari riding melewati genangan air sebisa mungkin. Males kan tiba-tiba terperosok karena lubang di dalam genangan air?

4. Brrr...Im freezzeeee


Hujan, becek, ga ada ojek, ups, salah, sudah hujan, basah, kedinginan juga, wkwkwk. Saya beberapa kali riding hujan-hujanan dalam waktu cukup lama, even, sudah pakai rain gear, tetap saja badan terasa dingin, jika anda melewati persimpangan yang ada lampu pengatur lalu lintas, dan kondisinya ramai oleh kendaraan, selamat, anda akan segera mendapatkan kehangatan. Hehehehhe. Bagaimana caranya? Mudah, dekati mobil yang sedang menunggu lampu hijau, posisikan diri anda di samping kap mesinnya, dijamin hawa panas yang muncul dari mesin mobil tersebut akan membuat anda merasa hangat.

5. Keep cycling or find the shelter?


Nah, ini tricky, jawabannya depends on the situation. Lets say, anda kehujanan dalam kondisi tidak mengenakan rain gear, dan hujannya pun kategori ringan-sedang, saya biasanya terus bersepeda, kenapa? Pakaian sudah basah, dan jika kita berhenti dan tidak segera mengganti pakaian dengan pakaian yang kering maka suhu tubuh anda akan menurun dan rentan sakit. Lebih baik terus bersepeda karena hal tersebut akan membuat anda hangat, lagipula, pakaian anda juga sudah basah semua, why must stop?

How about big rain? Well, i stop, even i use a rain gear. Why? Jarak pandang terbatas membuat anda kesulitan dalam memperkirakan apa yang akan anda lalui, resiko tertabrak oleh kendaraan lain juga semakin meningkat karena mereka pun kesulitan melihat apa yang ada di depannya. Selain itu, hujan deras biasanya disertai angin kencang juga, well, hal yang konyol jika anda terjatuh karena terhempas oleh angin, da satu lagi, kulit rasanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum saat hujan deras diserta angin kencang.

6. Flood, keep on or find another way?


Lagi-lagi depends on, anda bisa menilai sendiri apakah banjir tersebut bisa anda lalui atau tidak, lihat kecepatan arus air dan kedalamannya. Jika arusnya kecil namun ketinggian airnya melebihi hub dan BB sepeda, sebaiknya cari jalur lain, atau, panggul sepeda anda melewati genangan air tersebut. Servis BB dan hub setelah though riding adalah hal terakhir yang anda inginkan.

Sementara cukup itu dulu, nanti saya akan share hal lainnya yang terkait dengan hujan, stay tune.

Run with fats, not oils.