Pages

Monday, 14 July 2014

Upgrade For Speed (Part 3, End)

Lanjut lagi pembahasannya om dan tante, masih seputar upgrade sepeda untuk menambah kecepatan. Setelah saya membahas tentang rolling resistance di sini dan diet ketat bobot sepeda di sini, pada artikel kali ini saya akan membahas tentang efek aerodinamika pada kecepatan. Hmm, disini pembahasannya akan lebih banyak mengambil bahan dari roadbike, karena di dunia roadbike-lah aerodinamika paling terasa efeknya.

3. More aero, more speed.

By the way, aerodinamika itu apa ya? Aerodinamika diambil dari kata aero dan dinamika yang bisa diartikan udara dan perubahan gerak dan bisa juga ditarik sebuah pengertian yaitu suatu perubahan gerak dari suatu benda akibat dari hambatan udara ketika benda tersebut melaju dengan kencang. (purnama-bgp.blogspot.com).




Memangnya aerodinamika sangat berpengaruh pada kecepatan yang bisa dicapai oleh sepeda? Sepeda kan jalannya lambat. Eitss, sepeda itu memang kendaraan dengan human powered, namun dengan berbagai kecanggihan teknologi kecepatan yang bisa dicapai oleh sepeda saat ini dapat dikatakan setara dengan motor 50cc :D. Masa sih? Tidak percaya? Baca terus artikel ini.

Saya punya data tentang kecepatan rata-rata cyclist reguler dan pro cyclist, kutip dari latimes.com, dimulai dari flat area, kecepatan rata-rata regular cyclist: 27,36 to 28.97 kmh. Pro cyclist: 40.23 to 45.06 kmh. Untuk rute berbukit, kecepatan rata-rata reguler cyclist: 14.48 to 16.09 kmh. Pro cyclist: 33.80 to 40.23 kmh. 40 kmh itu kurang lebih sama dengan kecepatan di gear 2 pada bebek 110cc 4 tak, amazing right?

Oke, lalu berapa persen aerodinamika mempengaruhi cyclist? Saya kutip dari www.exploratorium.edu On a flat road, aerodynamic drag is by far the greatest barrier to a cyclist's speed, accounting for 70 to 90 percent of the resistance felt when pedaling. Sedangkan dari situs cervelo saya dapat tabel ini:
 
Dr. Andrew Coggan Ph.D., “The individual pursuit: demands and preparation” - See more at: http://www.cervelo.com/en/engineering/thinking-and-processes/aerodynamics.html#sthash.oFOmZ4pw.dpuf
Ho, ho, ho, see the fact? Lalu daftar belanjanya apa nih? Gampang kok, semua parts sepeda anda ganti dengan yang aero :D, sebagai panduan, ini ada tabel dari cervelo tentang bentuk shape dan tahanan anginnya:


 
Dari tabel diatas, terlihat bahwa bentuk tear drop mempunyai drag yang lebih kecil dibandingkan shape lainnya. Jadi anda tinggal cari parts yang shapenya tear drop atau oval.



Walaupun sepeda anda paling ringan, sangat aerodynamis, mempunyai friksi dan rolling resistance sangat kecil, semua hal itu akan percuma jika tubuh anda overweigth, karena yang paling tidak aero dari sepeda adalah penunggang sepedanya sendiri :D

Sebetulnya ada lagi hal yang katanya mempengaruhi speed, yaitu power transfer, hal ini terkait dengan tingkat kekakuan parts (stifness), berhubung saat ini carbon dan pola rajutannya bisa dimanipulasi sedemikian rupa, hasilnya adalah parts tersebut bisa stiff di beberapa bagian dan bisa flex di bagian lainnya. Jadi pendapat more stiffness = more speed sudah tidak berlaku. Harsh ride tentu saja akan menurunkan performa cyclistnya sehingga speed yang didapat akan menurun karena fatigue pada tubuh pengendaranya
 

Akhirnya artikel upgrade for speed selesai sampai disini, semoga bisa membantu om dan tante dalam memilih atau merakit sepeda yang kencang :). Sesungguhnya, upgrade yang paling terasa efeknya adalah upgrade tubuh anda sendiri, dan kali ini tidak ada jalan pintas :). Sepeda terkencang bisa anda beli jika anda punya uang, upgrade tubuh harus melalui, pain, suffer dan latihan yang takes a lot of times.


n:Joy


No comments: