Pages

Tuesday, 29 April 2014

Why Fixed Gear?

Sebelum punya sepeda fixie, saya sudah punya beberapa sepeda non-fixed gear, mulai dari sepeda lipat, MTB, Hybrid dan Roadbike. Terus kenapa akhirnya saya beli sepeda Fixed Gear dan lebih suka menggunakan fixed gear untuk commuting dan training pada weekend?

Well, awalnya karena rasa penasaran yang membuat saya mulai berminat dengan sepeda fixie, ditambah lagi ada film tentang bike messenger yang menggunakan fixie, yaitu Premium Rush di rilis di bioskop, seketika trend fixie yang mulai pudar nge-hype lagi (dan segera turun lagi saat film-nya turun dari bioskop, wkwkwkw).

 
Saat melihat film Premium Rush jadi makin tertarik untuk mencoba fixie, di tambah lagi ada teman di grup WA Cycling-ID, Om Yossy, ternyata menggunakan fixie brakeless untuk commuting. Cakep!!. Suasana sekitar lagi demam fixie dan punya teman yang benar-benar pengguna fixie, bukan sekedar poser.

Akhirnya saya mulai browsing, konsultasi sama Om Yossy dan meracuni diri sendiri dengan melihat FJB sepeda di internet. Stay tune terus di bukalapak.com sama kaskus.id.

Selang beberapa bulan, akhirnya saya mendapatkan speeda fixie pertama saya, sebuah jembolly 24” yang di-custom jadi 700c, Niceeeee... Saya mendapakan sepeda tersebut dalam kondisi second, siap digowes namun ada yang mengganjal di pikiran saya, sepedanya brakeless, wkwkwkkww.

Saya sudah ngeri duluan mau mencoba sepeda fixie saya karena tidak ada remnya sama sekali. Hufff... balik lagi browsing di FJB cari brake lever dan u-brake. Selang 1 minggu setelah saya mendapatkan sepeda fixie, paket berisi brake lever dan u-brake akhirnya sampai juga di rumah. Segera bongkar dan install di fixie and bring it on!!! Langsung saya coba gowes sepeda fixie saya, woowwww...feel weird, beberapa kali kena pedal stroke karena lupa sepedanya tidak bisa coasting hahahahahaha.

Setelah 3 hari test ride, akhirnya saya coba B2W menggunakan fixie, haduhhh...sumpah, hari pertama B2W menggunakan fixie itu horrible sekali, banyak ngerem, dan jalannya pelan karena masih belum terbiasa pedalling terus menerus. But, i dont give s shit!! Saya tidak kapok! Saya pakai terus sepeda fixie saya untuk B2W.

Setelah 1 bulan, saya sudah mulai terbiasa menggunakan transmisi fixed gear, malah menemukan kesenangan serta filosofi tersendiri yang tidak saya dapatkan pada sepeda saya yang lainnya, yaitu :

1. Kesederhanaan, sepeda fixie benar-benar sederhana, single speed, fixed hub, brakeless. Sangat minimalis dan basic untuk suatu alat transportasi.



2. Murah, yup, saat ingin memiliki fixie, yang ada di pikiran saya adalah menekan cost serendah mungkin, harga Felisa tidak sampai 1 juta parts yang lumayan baik.

3. Less Maintenance, tidak ada setting dan perawatan RD/FD, hanya truing dan cek ketegangan rantai, fixie siap jalan. Rantai single speed yang lebih tebal daripada rantai multi speed means lebih kuat dan usia pemakaiannya lebih panjang daripada rantai multi speed.
Fixie dropout

4. Zen things, tadinya saya tidak mengerti kenapa beberapa fixie riders menyatakan ada Zen di sepeda fixie, but..akhirnya saya paham apa yang mereka maksud. Saya merasa menyatu dengan sepeda fixie saya, rasanya seperti punya kaki yang ada rodanya, feel ini tidak saya dapatkan di sepeda saya yang lainnya yang multi speed dan bisa coasting.

5. Toughness, dengan hanya satu gear ratio, berarti saya tidak punya pilihan ratio untuk menanjak, berlari kencang di trek lurus maupun untuk bersepeda santai, saya harus terbiasa pedalling dalam kondisi apapun dengan hanya satu gear ratio. Harus memilih gear ratio dan konsisten dengan hal itu. Mau kencang ya naikkan cadence, mau nanjak ya harus latihan power, mau santai ya harus kendalikan diri.

Total control yet push me more tough. Anehnya sejak punya fixie saya tiba-tiba jadi kebal racun sepeda, hahahaha, tidak lagi ada hasrat berlebihan untuk upgrade grupset, wheelset maupun parts lainnya. :D

Thats way i like using fixed gear for commuting and training.


Keep cycling and enjoy your life.

No comments: